Yeah, it was. Ketika melihat kembali tumpukan kartu pos yang dibeli di setiap stasiun kereta, aku jadi ingat detil perjalanan yang mengiringi. Mengingat kembali bagaimana kita melewati setiap stasiun dengan sedikit rasa lapar, capek, ngantuk, kadang juga harus berlari mengejar kereta berikutnya.
Kartu pos – kartu pos itu menjadi pengingat akan sebuah kebersamaan yang pernah terjalin. Aku masih mengingat bagaimana aku melewati jalan menuju halte bus di desaku. Bagaimana rute bus yang kunaiki hingga sampai di kota terdekat dan bagaimana tanjakan menuju asrama dekat kebun apel itu.
Kartu pos – kartu pos itu juga mengingatkanku akan sebuah flat tempatku menginap, menangis karena membaca surat dari rumah, bercerita sampai hampir pagi, menghabiskan kentang goreng yang bikin gemuk. Ada juga yang mengingatkanku dengan perjalanan yang melelahkan tetapi menyenangkan. Kebingungan mencari kendaraan untuk pulang karena kereta terakhir baru saja berangkat. Hmmf, bikin kangen.
