Ramadhan hampir usai. Lalu, apa yang telah kita dapatkan di Ramadhan kali ini? Baju baru? Uang THR? Penurunan berat badan? Atau ada yang lain? Benarkah itu yang ingin kita dapatkan? Benarkah itu tujuan kita? Semua kembali ke pribadi masing – masing yang mengisi Ramadhan dengan cara masing – masing pula.
Setiap orang bisa jadi mempunyai perbedaan dalam mengisi bulan yang dimuliakan ini. Ada yang rajin beribadah, ada yang mengeluh, ada yang biasa – biasa saja.
Ketika Ramadhan datang, secara ajaib dan tiba – tiba, semua musholla dan masjid ramai oleh jamaah sholat tarawih dan sholat wajib. Tiap pagi, sore dan malam terdengar tadarus Al – Qur’an. Tetapi, setelah Idul Fitri, kemana semua itu? Mengapa hanya melakukannya di bulan Ramadhan? Karena iming – iming pahala yang berlipat? Sungguhkah hanya pahala yang diharapkan? Tetapi, ada juga yang mengisi bulan ini hanya dengan bermalas – malasan. Tidur di siang hari, kemudian mengeluh lapar dan haus. Bahkan, ada kalanya yang menganggap bulan ini tidak berbeda dengan bulan – bulan yang lain. Makan dan minum tetap jalan seperti biasa.
Ketika akhir Ramadhan, sebagian orang disibukkan dengan “fashion show”. Sibuk ke mall atau department store untuk mencari sepasang sepatu, sandal, satu stell busana muslim atau mukenah. Semua itu hanya dipakai tidak lebih dari 12 jam di Hari Raya Idul Fitri. Tapi, nominal yang sudah dikeluarkan untuk fashion show itu, bisa jadi ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sebagiannya lagi sibuk berebutan zakat dan sedekah. Yang lain, sibuk menghitung jumlah salam tempel yang bisa dikumpulkan dari saudara – saudara. Sungguhkah itu arti Ramadhan dan Idul Fitri? puasa – baju baru – uang – kue lebaran?
Ramadhan adalah bulan yang dimuliakan di dalam agama saya. Telah dijanjikan pahala yang berlipat bagi siapa saja yang beribadah di bulan ini. Memaknai Ramadhan bukan hanya sekedar puasa, membaca Quran, sholat tarawih dan meningkatkan ibadah. Tapi Ramadhan berarti lebih dari itu. Ramadhan berarti memperbaiki diri, mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik di bulan – bulan berikutnya. Dan Idul Fitri, adalah pintu gerbang bagi perjuangan yang sesungguhnya. Perjuangan untuk terus mempertahankan kebaikan yang kita lakukan selama Ramadhan.
Mari kita lihat kembali apa yang telah kita dapatkan di Ramadhan kali ini. Tanyakan kembali ke dalam diri ini, apa sebenarnya arti Ramadhan untuk kita? Jika kita telah berpuasa, menahan emosi selama Ramadhan. Lalu, mengapa setelah Ramadhan, kita tak bisa lagi melakukannya? Jika kita rajin membaca Quran ketika Ramadhan, mengapa setelah Ramadhan, Quran dibiarkan terdiam di rak buku? Bukankah hal – hal baik yang kita lakukan selama Ramadhan, bisa dilakukan juga setelah Ramadhan? Alangkah indahnya, jika kita juga bisa melakukan hal – hal baik itu di luar Ramadhan.