hatred

sebenarnya, gak baik juga menyimpan rasa itu. Gak baik buat aku, dia dan kami. Tapi susah. Y, i know, susah bukan berarti gak mungkin. Tapi.., aku udah coba berkali kali. Dan hasilnya, selalu buat hati gak enak. Ujungnya, nangis.

Kadang inginku berhenti sejenak dari rutinitas yang kulakukan 3 tahun terakhir ini. Terlintas pula keinginan untuk berhenti, mengakhiri perjalanan yang sudah kumulai, lalu berganti arah. Apa sebenarnya yang kucari?

Ketika aku melihat wajah – wajah polos mereka, melihat perjuangan mereka dan mengingat setiap sapaan dan senyuman ketika berkata: “Bu, saya menang”, aku sadar bahwa itulah hal terindah yang bisa kudapatkan.

Pada akhirnya, aku tetap harus memilih. Berada di jalan ini, atau berhenti dan melangkah ke jalan yang berbeda. Mereka akan selalu menjadi bagian dari perjalananku, yang pernah memberikan warna dan berikan kebanggaan padaku. Maaf, jika yang kuberikan tak lagi sepenuh hati..

-for my pupils-

A Year After

A year ago, I met you for the first time. I never thought that you really going to make it, actually. Oh, please.., my house is way too far from yours, right? It took 1.5 hours to get there. And you really had to go there early in the morning, before dawn. Kinda patriotic? Don’t think so. It’s just the matter of curiosity, right? I don’t think that you got a good impression of me at that time. Yeah, I’m sure with what’s on your mind. Was it: “Gosh, she’s just so skinny, way too far from beautiful. What have I done? Oh, I think I made a mistake”. :D
Well, that day wasn’t really good. Remember the problem with your motorcycle? It should run well since it was our first meeting. But it wasn’t. And yes, other than only the problem with the motorcycle, we also did some kind of debating.
After all, I’m happy to meet you. I’m really happy. You’re such a friendly boy, polite and fun. I never thought that we’re going to be this far (You know what I mean, Hun :) ). I’m happy with what I’ve got this last year. And I think God sent me an angel.
An angel who makes me smiles again and again. I can’t deny that sometimes I cry because of you. But I can bear it, cz neither I can make you always smile.
Hun, would you always stay with me? Hold my hand and make me smile again? Hug me when I’m down and be there when I’m in need?
I know I’m not perfect, Hun. But I’ll try my best for you, because I’m so grateful of having you.

Keanggunan Sang Bidadari

Kemanakah kau akan menuntunku, bidadariku
Yang menebarkan jalan keanggunan, dan
Berapa lama lagi kuikuti dirimu
Di atas jalan berliku yang ditanami onak duri?
Masih berapa lama lagi batin kita menyusuri di atas jalan berbatu-batu,
Dan berliku ini dengan penuh sejuta kesakitan?
Laksana seorang anak mengikuti bundanya,
Aku mengikutimu, memegang ujung terjauh pakaianmu,
Membatalkan impian-impianku, menikmati kecantikanmu,
Yang menyilaukan mataku dibawah pesona,
Dan merangkulku lewat kekuatan batin, didalam diriku yang tak pernah bisa
Kubohongi……………
Berhentilah sejenak dan membiarkan aku menatap wajahmu
Dan memandang diriku sebentar, mungkin aku ingin mengetahui
Rahasia-rahasia hatimu melalui tatapanmu
Yang sangat bersahaja.
Berhenti dan beristirahat, karena aku letih, dan
Jiwaku merinding takut di jalan ini.
Berhenti, karena kita telah mencapai
Gerbang persimpanagn menakutkan
Dimana kematian merangkul kehidupan.

05 09 2011

Kulihat pemandangan hijau di luar jendela pagi itu. Banyak yang harus diselesaikan. Tapi entah kenapa, aku merasakan damai dan senang. Ada seseorang di belakangku. Aku tau dia melihatku dan memperhatikan setiap gerak gerikku. Dia menungguku.

Pekerjaan dengan sayuran di balik jendela itu harus diselesaikan. Dan dia, tetap di sana. Menungguku menyelesaikan pekerjaan dengan sayuran sayuran itu. Aku suka melihat senyumnya ketika mengajakku mensyukuri semua yang telah kami dapatkan serta berdoa untuk setiap kemudahan dan kelancaran dalam setiap langkah kami.

Melihat matanya adalah satu hal yang sulit kulakukan. Setiap kali menyelesaikan doa – doa kami, mata itu selalu melihatku. Dan aku hanya bisa menunduk serta merasakan bahwa aku tidak bisa kehilangannya.

Ada sentuhan lembut untukku, dan dalam setiap sentuhan, aku merasakan kerinduan yang mendalam. Keinginan untuk terus bersama serta rasa takut kehilangan. Seakan waktu akan memisahkan kami lagi.

Waktu yang singkat di hari itu begitu berharga bagi kami. Ketika aku dan dia bisa melakukan banyak hal bersama. Merasakan hasil karya kami, berbagi dan bercerita. Aku merasa bahwa dia adalah hadiah terindah untukku. Ketika aku bisa merasakan detak jantungnya, saat itu aku bersyukur bahwa dia ada. Untukku. Milikku.